Minggu, 30 Juni 2013

REPUBLIK KAMPRET PART II

Oleh : M.Najib Aulia Zaman
Untuk yang masih menanyakan untuk apa sebenarnya Reformasi jika masih saja watak culas bak buaya masih bersarang di telaga hati nurani. Untuk yang masih menanyakan apakah kita benar benar sudah  merdeka jika kedaulatan tak lagi tergenggam di tangan dan kebebasan hilang dari pikiran. Untuk yang masih menanyakan untuk apa demokratisasi jika setiap habis pemilihan hanya melantik bunglon dan buaya yang rajin memoles, merias dan merekayasa kebenaran. Selalu saja kita gagap menjawab dan tak ingin tahu jawaban dari pertanyaan pertanyaan itu karena kita sudah terlanjur malu mengakui bahwa kita telah kalah tersungkur di tanah sendiri. Kita terlalu bodoh dan kita

Kamis, 23 Mei 2013

REPUBLIK KAMPRET PART I


Para sidang pembaca yang terhormat, facebookholic dan para penghuni dunia maya yang saya cintai. Hari ini saya ingin membagikan kegundahan hati yang sedang saya alami. Suatu perasaan yang mungkin sulit untuk dijelaskan karena berada di luar logika dan tidak bisa didiagnosa secara medis. Dimana akhir akhir ini saya merasa sangat takut berada di depan layar televisi yang sedang menayangkan kabar berita khususnya mengenai perkembangan di negeri ini. Betapa tidak, setiap berita yang ada selalu mengabarkan tentang keprihatinan bangsa yang tak kunjung reda. Mungkin untuk lebih kerenya gejala ini

Minggu, 12 Mei 2013

MEMO UNTUK PERUBAHAN


Oleh: Najib Aulia Zaman
“Setiap zaman akan melahirkan anaknya masing-masing”
Demikianlah kiranya ungkapan kalimat yang bisa menggambarkan kehidupan yang dinamis ini, setiap saat akan selalu berubah dengan berbagai macam dinamika yang mengiringinya. Bukan hal yang tidak mungkin ketika kita mengulang kejayaan suatu masa atau mungkin membuat sejarah baru yang bisa membawa sebuah tatanan kehidupan yang lebih baik.
Setiap generasi akan berbicara pada masanya,dan hanya generasi yang berkualitaslah yang mampu menciptakan sejarah yang baik itu.Saatnya kita beranjak dari tidur lelap ketertinggalan, kemalasan, dan kebodohan. Masihkah kita hanya berpikir untuk 

Kamis, 02 Mei 2013

AWAS ADA SU(L)AP


Oleh : M.Najib Aulia Zaman
Apa yang anda pikirkan ketika dulu pertama kali melihat sulap? Ketika masih kecil, saya begitu kagum melihat orang bisa bermain sulap. Bagaimana tidak, hanya dengan waktu sekejap mereka bisa menghilangkan benda yang tadinya dia genggam, bisa memindahkan benda tanpa dia menyentuhnya, bahkan mereka juga bisa merubah selembar kertas menjadi burung yang bisa terbang. Dan tentunya tidak hanya itu saja, di televisi banyak sekali ditayangkan beragam aksi sulap. Hanya dengan beberapa trik mereka bisa mengelabui mata kita dan cukup bisa menghibur kita. Terlepas itu menggunakan ilmu sihir atau bukan yang pasti dulu saya hanya kagum dengan keahlian yang luar biasa itu, bahkan saking kagumnya, saya sempat tertarik untuk mempelajarinya meski hanya dengan bantuan media yang sangat terbatas.
Namun seiring dengan perjalanan waktu ketertarikanku pada sulap sudah mulai berkurang, bahkan apapun bentuk yang disajikan saya anggaphanya biasa saja. Karena sekarang ini sulap yang di luar jangkauan nalar manusia sekalipun sudah

Selasa, 02 April 2013

“SANGU”


“SANGU”
Oleh : Najib Aulia Zaman

Suara lantunan kalam ilahi terdengar lirih di sudut ruang masjid. Dengan terbata mengeja alif, Ba, ta lelaki tua yang akrab dipanggil mbah Karsa itu beberapa kali mengulang bacaanya agar terdengar fasih. Sulit baginya untuk bisa megucap dengan jelas deretan huruf huruf hijaiyah itu. Selain memang belum mengerti bacaanya, pandangan matanya yang sudah kabur dan sebagian giginya yang sudah tanggal menjadikanya susah untuk bisa mengucap setiap kata. Namun baginya tidak ada kata terlambat, usia bukanlah penghalang untuk senantiasa belajar. Hasratnya yang kuat untuk bisa membaca al-Quran dengan baik dan benar dibuktikanya dengan selalu mendaras ayat ayat suci  itu siang dan malam.
Hari harinya dia habiskan di masjid untuk taqorrub ilallah dengan beri’tiqaf, berdzikir, membaca al-Quran, dan tentunya sholat berjamaah. Tak pernah lelah bibirnya hingga basah mendesah mengalunkan kalimah tayyibah.  Sesekali batuk berdahak menyentak, menghentak jiwa jiwa yang sedang tidur nyenyak di sepertiga malam yang mulai berjalan hingga

Sabtu, 09 Maret 2013

Seni Kaligrafi Pasir Merapi


kreasi seni berbentuk kaligrafi sampai saat ini masih tetap diminati, selain karena nilai keindahan yang tertuang dalam bentuk tulisan juga seni ini memiliki kekhasan tersendiri dimana semua orang bisa menikmati tanpa perlu memaknai apa yang ada dalam karya tersebut, berbeda dengan lukisan yang orang butuh untuk mencerna pesan apa  yang ingin disampaikan si pembuat karya itu (pelukis).
Perkembangan di dunia kaligrafi juga sudah mengalami kemajuan, dari yang semula tebatas pada seni dua dimensi saat ini sudah mulai bermunculan kreasi kaligrafi dalam bentuk tiga dimensi. Begitu juga dengan media yang digunakan yang saat ini sudah mulai beragam tidak hanya terbatas pada kertas atau kanvas. Sebagaimana karya yang kami sajikan ini, kami mencoba membuat kaligrafi yang memanfaatkan potensi lokal di daerah tempat kami tinggal yakni di sekitar Gunung Merapi. Selain dikenal karena potensi buah salak pondohnya, daerah kami juga terkenal dengan pasir merapinya yang sangat cocok untuk bahan bangunan. Karena beragamnya media yang sudah mulai dimanfaatkan untuk berkreasi saat ini maka muncul gagasan untuk mencoba memanfaatkan pasir sebagai media membuat kaligrafi yang hasilnya bisa anda lihat sebagaimanan foto di atas. Meskipun karya ini bukan ide penulis karena ini juga hasil dari mengikuti sebuah pelatihan, tapi yang pasti kami hanya mencoba untuk mengembangkan ide tersebut dalam bentuk yang berbeda dan mungkin dalam waktu dekat kami akan mencoba mengembangkanya dalam bentuk lukisan.
Nha,,,bagi temen2 yang sekiranya tertarik untuk memiliki karya ini bisa menghubungi kami di 08562935285 (Gabriel). Silahkan pesan mulai sekarang dengan harga yang terjangkau. mulai Rp.50.000/item.

Sabtu, 06 Oktober 2012