Kamis, 05 Juli 2012

“ KARBITAN”


Oleh : Najib Aulia Zaman

Mungkin sahabat sahabat pernah membedakan rasa buah yang dibeli di pasar dengan buah yang dipetik lansung dari pohonya, tentu rasanya lebih enak buah yang dipetik langsung dari pohonya ketimbang yang dibeli di pasar bukan? Ya, sebagaimana kita tahu bahwa buah yang dijual di pasar kebanyakan adalah buah yang proses masaknya melalui rekayasa yang sering kita kenal dengan istilah buah karbitan. Dimana proses tersebut dilakukan agar buah bisa cepat masak untuk kemudian dijual. Bagi seorang pedagang buah hal ini akan menguntungkan karena bisa lebih cepat memenuhi stock daganganya ketimbang harus menunggu semua buah itu masak di pohonya meski dengan konsekuensi kesegaran buah tidak lagi terjamin bahkan kadar vitamin yang ada dalam buah tersebut tentu sudah berkurang. Dari proses tersebut, buah yang sebenarnya belum saatnya dipetik  harus dipetik untuk kemudian dipercepat proses masaknya dengan diberi bahan berupa tepung karbit sehingga bisa

Rabu, 26 Oktober 2011

ROMANTIKA “DUNIA MAYA”

KLIK !, Satu pencetan tombol mouse mengantarkan bola mata Ranu ke halaman jejaring sosial Facebook. Sampai di beranda ia masukan wedhang_Jahe@yahoo.co.id ke dalam kolom email dan tempe mendoan sebagai passwordnya. Begitu masuk tidak ada pemberitahuan yang muncul kecuali satu permintaan pertemanan yang menyapa dengan nama Lusi Hanyailusitakkankembali. ‘lagi-lagi alay ‘ (anak lebay.Red.), gumam Ranu dalam hati. Ranu agak sedikit ragu untuk mengkonfirmasi, tapi agaknya foto profil yang nampang di dinding akun itu berhasil merayu mata Ranu untuk menambahkan ke dalam daftar pertemananya. Sejenak ia pandangi foto profil itu, gadis berkulit putih bersih tersenyum manis berhias lesung di kedua pipinya, parasnya elok rupawan dengan rambut hitam lurus tergerai rapi, sorot

Senin, 05 September 2011

DI UJUNG PENCARIAN



Oleh : M.Najib Aulia Zaman
Segelas kopi tersaji di pagi itu, senin 24 Juli 2006,di atas dipan bambu kita bercengkerama, berbagi rasa akan sebuah cerita kehidupan antara aku dan kamu sahabat yang belum genap seminggu aku kenal. Kau mulai bagikan cerita tentang pahit getir hidupmu, menapaki sejengkal kehidupan yang muram, mendaki terjalnya cobaan, bahkan kau ceritakan sederet kisah dari dunia hitamu dan di pagi itu munculah sebuah pengakuan “bahkan dengan diriku pun aku tak kenal dan nyaris aku pun tak pernah mengenal siapa Tuhanku, aku tidak meyakini adanya Tuhan karena aku tak juga melihatNya”, begitu katamu kala itu. Meski begitu tak sedikitpun kutemukan resah di wajahmu, merasa tak penting untuk mengakui kebodohan itu. Pikirku untuk apa aku harus berlama-lama menemaninya,seorang yang mengingkari keberadaan diri dan Tuhanya sendiri.
Perlahan kuseka tepi cangkir yang hangat yang telah tersaji di depanku untuk sedikit mengurangi rasa dingin yang mendekap tubuhku sembari mencerna celotehanmu yang seakan tanpa sepasi meluncur deras dari mulutmu yang tanpa arah bercampur dengan sisa aroma wisky yang 

Minggu, 21 Agustus 2011

Mahasiswa : Antara fakta dan Citra[*]



Oleh : M. Najib Aulia Zaman
Mahasiswa merupakan kelompok elit terdidik yang kalau ditempatkan dalam struktur masyarakat kita berada pada posisi yang cukup strategis karena memiliki peran ganda dimana mahasiswa dalam kapasitasnya sebagai bagian kaum intelektual yang diharapkan bisa menjawab setiap persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus juga menjadi aktor dari terwujudnya perubahan yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Hal ini paling tidak terbukti dengan adanya gerakan-gerakan moral yang diusung mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga secara tidak langsung mahasiswa telah menjadi bagian dari penyambung lidah rakyat. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah perjalanan bangsa ini juga tidak pernah lepas dari peran mahasiswa dalam rangka menegakan demokrasi menuju tatanan sosial yang lebih baik. Sejarah telah mencatat bagaimana mahasiswa ikut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan, menuntut terbentuknya tata pemerintahan baru dari masa orde lama yang pada waktu itu 

Kamis, 11 Agustus 2011

Siapa Yang Harus Didahulukan?




Ada sebuah perusahaan besar yang sedang mencari karyawan. Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus untuk dijawab:
"Anda sedang mengendarai motor di tengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yang saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga Anda melewati sebuah perhentian bis satu-satunya di daerah itu. Di perhentian bis itu, Anda melihat 3 orang yang merupakan orang terakhir di daerah itu yang sedang menunggu kedatangan bis:
• Seorang nenek tua yang sekarat
• Seorang dokter yang pernah menyelematkan hidup Anda sebelumnya
• Seseorang yang selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda temukan.
Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk membonceng Anda. Siapakah yang akan Anda ajak? Dan, jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu!"
Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan:
• Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat. Jika tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalo dipikir-pikir, orang yang sudah tua memang sudah mendekati ajalnya. Sedangkan yang lainnya masih sangat muda dan harapan hidup ke depannya masih panjang.
• Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepadanya. Tapi, kalo dipikir, kalo sekadar membalas budi bisa lain waktu kan? Namun, kita tidak pernah tahu kapan kita akan mendapatkan kesempatan itu lagi.
• Mendapatkan idaman hati adalah hal yang sangat langka. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan, impian Anda akan kandas selamanya. Jadi yang mana yang Anda pilih?
Dari sekitar 2000 orang pelamar, hanya 1 orang yang diterima bekerja di perusahaan tersebut. Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat: "Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia untuk membawa nenek tua yang sedang sekarat tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal di sana dengan sang idaman hati saya untuk menunggu ada yang kembali menolong kami."
Ya, jawaban di atas adalah jawaban yang terbaik bukan? Tapi, kenapa sebagian besar hal tersebut tidak kita pikirkan sebelumnya? Apakah karena kita terbiasa dengan tidak mau untuk melepas apa yang sudah kita dapatkan di tangan dengan susah payah? Dan, bahkan berusaha meraih sebanyak-banyaknya?
Terkadang..., dengan rela untuk melepaskan sesuatu yang kita miliki, melepaskan kekeraskepalaan kita, mengakui segala keterbatasan yang kita miliki dan melepaskan semua keinginan kita untuk sesuatu yang lebih mulia, kita akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Rabu, 01 Juni 2011

MANUSIA BUTUH BELAJAR




Oleh ;Muhammad Najib Aulia Zaman
Proses mengenal, memahami dan bertindak sesuai dengan aturan, baik aturan yang berupa norma-norma, regulasi formal suatu lembaga maupun aturan dalam suatu agama pastilah melewati sebuah fase yang dinamakan belajar. Manusia meski telah memiliki potensi (kelebihan) berupa akal yang secara alami telah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, namun tidaklah cukup untuk bisa mendewasakan sikapnya tanpa proses belajar. Seorang anak kecil tetap bisa membedakan mana yang enak dan tidak enak untuk dimakan, namun belum bisa membedakan mana cara yang baik atau bagaimana seharusnya makan yang sesuai dengan etika tanpa melalui proses belajar. Dengan dibantu orang tuanya yang mengajari bagaimana cara makan yang benar, misalnya dengan mengajari kalau makan harus pakai tangan kanan, sebelumnya harus cuci tangan dan berdo’a terlebih dahulu, maka anak kecil tersebut kemudian akan terbiasa makan dengan sikap seperti apa yang telah diajarkan kepadanya. Sedangkan sikap tersebut memang sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat maka anak tersebut telah dikatakan memiliki kepribadian yang baik bahkan juga telah dianggap mampu mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Berarti dengan proses belajar, manusia akan menjadi pribadi yang baik, yang memiliki etika yang bisa mengangkat harkat, derajat dan martabatnya. Jadi, manusia akan menjadi baik atau tidak baik itu tergantung atas apa yang diajarkan kepadanya. Seperti apa yang telah dikenal dalam teori pendidikan yang dikenalkan oleh Jhon Lock yakni teori tabularasa yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia itu terlahir dalam keadaan bersih yang diibaratkan seperti kertas putih sehinga keadaan kertas itu akan menjadi baik atau tidak tergantung yang akan memanfaatkanya. Entah kertas tersebut akan ditulisi dengan tulisan-tulisan yang bagus atau tulisan-tulisan yang jelek atau mungkin juga malah dicoret-coret. Diatas telah dicontohkan bagaimana seorang anak kecil bisa mengenal sikap makan yang sesuai dengan etika karena peran ibunya yang telah mengajarinya nilai-nilai kebaikan karena tidak mungkin juga seorang ibu mengajari kejelekan pada anaknya sendiri. Maka disinilah, peran orang tua sangat diharapkan bagi kehidupan anaknya kelak dan sikap ataupun perilaku anak akan sangat ditentukan oleh pendidikan dari orang tuanya. Untuk itu sudah sewajarnya orang tua untuk selalu memberikan perhatian dan peduli terhadap perkembangan pendidikan anak-anaknya. Hanya persoalanya, bagaimanakah ketika anak kurang mendapat perhatian dari orang tuanya dikarenakan mungkin kesibukan orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidup (mencari nafkah) sehingga dalam mencurahkan perhatian untuk mengajari anak-anaknya nilai-nilai kebaikan semakin berkurang, rendahnya pendidikan orang tua juga menjadikan tingkat kepedulian terhadap pendidikan anaknya kurang, adanya persolan keluarga dan hal-hal lain yang menjadikan pendidikan anak terabaikan.
Sebagian besar anak-anak sekarang memang sudah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Dimana sekolah, bagi masyarakat dianggap lebih bisa diharapkan untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka kelak sekaligus juga bisa menggantikan peran mereka sebagai orang tua dalam hal pengajaran nilai-nilai kebaikan yang berlaku dalam masyarakat maupun yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama. Karena sekolah merupakan lembaga formal yang memang memiliki peran dalam bidang tersebut. Sehingga orang tua mempercayakan kepada sekolah agar kelak anak-anaknya menjadi orang-orang yang berilmu, berpendidikan, dewasa dan bertanggung jawab. Disinilah peran guru menjadi faktor penentu kedua setelah orang tua dalam hal menciptakan generasi-generasi yang memiliki ciri seperti yang telah disebutkan di muka. Guru memiliki peran yang sama pentingnya dengan orang tua dalam menciptakan kepribadian anak, karena ternyata waktu (intensitas) pertemuan anak dengan gurunya malah lebih besar dibanding intensitas bertemunya anak dengan orang tuanya. Ini dikarenakan kebanyakan anak-anak memanfaatkan jam pulang sekolah untuk bermain dengan teman sebayanya, sedangkan malam yang seharusnya bisa dimanfaatkan orang tua untuk menemani belajar anak-anaknya malah dimanfaatkan orang tua untuk istirahat karena kelelahan bekerja seharian. Lantas bagaimanakah seharusnya upaya sekolah untuk bisa menggantikan peran orang tua secara maksimal sehingga sekolah menjadi sebuah lembaga yang benar-benar bisa diharapkan peran dan fungsinya dalam mencerdaskan generasi bangsa ini?
Secara moral individual beban tanggung jawab pendidik (guru) tidak hanya kepada masyarakat tetapi juga kepada Tuhan. Karena pengenalan aspek penghayatan dan pengamalan nilai-nilai keagamaan juga menjadi tanggung jawab seorang pendidik, karena belum dikatakan sempurna jika proses pendidikan hanya terbatas pada aspek duniawi saja tidak menyentuh aspek ukhrowi apalagi dalam pendikan dasar. Maka pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai religiusitas spiritual (afektif) dan pengenalan terhadap Tuhan sehingga anak didik bisa menjadi pribadi yang taat dan taqwa terhadap ajaran agamanya yang menuntunya menjadi manusia yang berkedudukan sebagai Khalifah fil Ardhi sebagaimana yang menjadi amanah yang diberikan Tuhan. Pendidikan spiritual ini juga telah mencakup pendidikan moral atau budi pekerti karena moral merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter sehingga wajar jika ada ungkapan yang menyatakan bahwa “Suatu bangsa dikenal karena aklhaknya (budi pekertinya), jika budi pekertinya telah runtuh maka runtuhlah bangsa itu”[1] Ini sesuai dengan gagasan yang pernah dikenalkan oleh Ir.Soekarno yakni Nation Mental and Character Building.
Kita bisa melihat ketika pendidikan hanya mengedepankan intelektualitas pikiran semata dan mengesampingkan pendidikan moral atau akhlak anak didik maka yang ada adalah ketidak siapan mental anak didik untuk menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Jadi ketika anak didik telah menjadi orang yang pandai, namun kalau tidak memiliki moral yang benar maka disini bisa dikatakan pendidikan itu telah gagal. Sehingga tidaklah mengherankan jika masih ada banyak para pejabat tinggi yang kapasitas kepandaianya juga tidak perlu dipertanyakan bisa berbuat korupsi, rakus harta ataupun kedudukan dan tidak bertanggung jawab dengan melupakan amanah yang diembanya . Sedemikian besarnya pengaruh pendidikan bagi pembentukan pribadi seseorang. Ini berarti menjadi pendidik adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan tidak hanya sebatas tuntutan profesionalitas apalagi tuntutan materi.
Hal mendasar yang perlu diperhatikan oleh seorang guru dalam mendidik anak disamping adanya kesadaran bahwa mengajar adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggungjawab juga perlu adanya rasa memiliki dan kepedulian bahwa mereka (anak didik) adalah generasi bangsa, generasi yang akan meneruskan untuk membawa tongkat estafet perjuangan kita kelak. Memang tidak mudah untuk menghantarkan mereka (anak didik) menjadi insan kamil yang bisa memberikan buah karya bagi bangsa ini, namun setidaknya bagaimana membangun kepribadian mereka sehingga paham akan nilai-nilai kebaikan sesuai dengan apa yang ada dalam ruang kehidupanya baik nilai-nilai kebaikan dalam beragama maupun dalam norma kehidupan bermasyarakat.
Saatnya kita (pendidik) melakukan refleksi tentang peran yang sedang kita jalankan ini, sanggupkah kita menjalankan amanah yang begitu berat ini, beranikah kita mempertanggung jawabkan segalanya, iklhaskah kita dalam mengemban amanah ini, masih pedulikah kita dengan generasi bangsa ini, dan masih bisakah kita bersabar untuk membimbing mereka (anak didik). Hanya kitalah yang mengetahui semua jawaban itu, semuanya dikembalikan kepada kita (para pendidik). Semoga dengan usaha kita yang sungguh-sungguh Alloh memberikan ridhonya kepada kita semua.Amiin.
LONG LIFE EDUCATION....

[1] Abdul Khaliq dkk.Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), Hlm.117

Rabu, 04 Mei 2011

INDONESIA DI TENGAH MEDAN IDENTITAS


INDONESIA DI TENGAH MEDAN IDENTITAS
Oleh : M.Najib Aulia Zaman
“Hanya bangsa yang sadar sejarah dirinya yang mampu menentukan tujuan dari bangsa tersebut” (Pramoedya Ananta Toer).
Pergerakan roda sejarah bangsa Indonesia belum sepenuhnya mampu menjawab akan cita-cita bangsa Indonesia menuju bangsa yang berkeadilan. Jika kita menengok sejarah, bagaimana awal berdirinya bangsa ini dengan ditandai adanya gerakan perlawanan terhadap kaum kolonialis dengan darah dan perjuangan, namun tetap saja konflik, diskriminasi, eksploitasi masih mewarnai perjalanan negeri ini. Demikian halnya dengan problem-problem sosial yang lain seperti kemiskinan, kebodohan, degradasi moral yang berujung pada kriminalitas adalah dinamika yang tak terbantahkan.
Namun demikian, bukan berarti bangsa ini kosong akan nilai-nilai peradaban karena sejarah telah mencatat bagaimana para Founding Fathers kita telah melakukan sebuah langkah untuk menyatukan bangsa Indonesia yang memiliki ragam kultural dan pluralitas yang