Seiring berlalunya sang waktu, kucoba serahkan angan pada sang malam yang menghalauku untuk berkelana susuri jejak keheningan. Di sudut kamar aku terpaku membisu menggembalakan fantasi kehidupanku. Di ujung gelap malam masih membayang ditemani sepi tanpa Rembulan. Hanya kunang kunang satu satunya harapan pengganti bintang namun itu pun kini menghilang.
Kunang kunang di malam hari, bukan hanya malamu saja, tapi aku lebih merindu. Bukan malamu tapi gelapku butuh hadirmu dan hilangmu di malam yang remang berarti hilangnya keceriaanku.
Masih di sudut kamar aku membayang mencoba memutar kembali memori masa kecilku. Bercanda riang di halaman depan tatkala Purnama datang, berlari berkejaran memainkan dolanan kampung. Ada tawa cekikikan tapi kadang juga tangis sebagai selingan. Gobak sodor, bentik, dakon, apolo, pembela, bekelan, colongan ndog, jamuran, ucek ucek jengkol, dingklik oglak aglik, remi (empat satu, minuman, malingan), prik prikan,delikan, jitingan dan sekian nama permainan yang sudah tidak lagi aku ingat. Semua membaur menjadi satu berteman akrab dengan cahaya bulan dan bintang tanpa memandang status social. Berbagi rasa, berbagi tawa, berbagi duka semua tersimpan dalam album kenangan masa kecilku.
Namun kini, lembaran lembaran kisah itu hanya akan menjadi cerita semalam. Tawa riang itu telah tergantikan dentuman music dari televisi, radio compo, MP3, MP4, CD/DVD player. Kebersamaan itu telah tergantikan keegoan diri berbagi dengan produk tehnologi : HP,Playstation (PS),i-Pad, game On Line, dan internet. Solidaritas itu telah tergantikan oleh pesan singkat sms, telepon atau chattingan.
Sepi ini semakin membunuhku, nuansa ramah di rumah tak lagi nampak yang ada hanya seulas senyum pada sekotak layar televisi atau segenggam HP di tangan. Tak ada lagi tawa riang anak kecil yang berkejaran di halaman. Tak ada lagi obrolan hangat di tepi tepi jalan ataupun pos ronda. Semuanya hanyut dalam ruang kosong di tepi batas antara dunia nyata dan dunia maya.
Malamku menjadi malam seribu lamunan berkawan dengan mimpi sejuta ilusi tak ada tempat untuk berbagi. Hanya lembaran catatan diary menghiasi ruang batin yang mewakili suasana hati atau sehelai coretan kuas yang warna warni meluapkan emosi. Tapi biarlah ujung gelisah ini akan aku bawa hingga pagi nanti untuk melengkapi cerita semalam edisi kali ini.
Matahari merangkak pelan menggapai lambaian awan menjadikan wajah langit mulai terlihat berbinar. Mentari pun mulai menyapa seolah ingin menghibur manusia dengan segala kesibukanya. Begitu cepat berlalunya sang waktu, semoga masih ada cerita yang bisa aku bagikan untuk malam nanti agar aku bisa membunuh sepiku…….
Bilik 4, Selasa ( 2/11/2011),20.00 WIB
By:
Najib Aulia Zaman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar